Kamis, 27 Juni 2013


GAMANG PENEMBANG


Diriku dulu adalah pendamai manusia. Kawan dan keluarga. Aku cantik dan merangsang. Keelokanku hampir selalu menyapu ranting pohon-pohon pada musim semi dengan tanpa ragu. Jangankan pohon-pohon pada musim semi, pria-pria senja dan paruh baya bahkan sudah tunduk melihat sinarku. Namun, itu dulu. Sekali lagi, itu dulu.
Dua boneka teddy bear dengan bungkusan bulu tebal yang pirang menemaniku di atas ranjang. Setiap malam. Sudah tak berteman siapa-siapa lagi aku. Bahkan bunga-bunga matahari penebar penerangan dalam hidup, sudah enyah sejak dulu kala. Bukan. Bukan dulu. Lebih tepatnya enyah sejak dia meninggalkan aku. Lelakiku. Priaku. Pendamai jiwa saat diriku tak lagi damai. Pekerja harianku saat ragaku tak lagi dapat bergerak menembus kejamnya dunia seorang pekerja sastra. Pengatur finansialku saat dompet tak lagi dapat bicara menuruti nafsu pemasukanku yang kalang kabut mengikuti obralan gadjet jaman global. Dialah yang menyulap duniaku menjadi serba surplus. Pahlawanku, dulu. Pahlawan kesianganku, kini.
###
Hubungan kami tidak membaik sudah sejak satu setengah tahun yang lalu. Kami telah pisah ranjang sudah sekian lama. Bukan karena apa-apa, tapi aku sudah tidak lagi merasakan belaian kasih sayangnya pada helai-helai rambutku yang tersentuh angin dengan tidak sengaja. Aku haus akan sentuhan fisiknya di sekujur tubuh yang mulai gersang terbakar sinar hingga keemasan. Bukan karena nafsu, tapi memang begitu hubungan kami berjalan. Berjalan selama 3 tahun. Sejak aku menginjakkan kaki di bangku sarjana, hingga kini mimpiku terbang menuju keluar gerbang kampus tersohor bertempat di Kota kedua terbesar, Surabaya.
Saat aku sedang sibuk-sibuknya menjalani masa pengenalan dunia kerja penembang sastra sebagai atribut pelengkap rubric fiksi-fiksian, dia dengan mudahnya digirng oleh seorang wanita untuk berplesir ke daerah wisata, Singaraja. Tak lain dan tak bukan, wanita itu adalah temannya. Temannya yang sempat berkenalan denganku. Temannya yang bersikap welcome dan kindly kepadaku. Tapi sikapnya yang suka menggandeng lelakiku untuk berplesir itu membuatku memiliki tatapan tidak enak untuk sosoknya. Sosoknya yang tajir dan kemayu menambah kadar keirianku terhadap dirinya. Lebih fatalnya lagi, lelakiku tidak menyadarinya. Dianggap enteng saja peristiwa plesirnya itu. Bukan main, ini semakin menambah kacaunya hubungan tiga tahun kami yang separuhnya adalah peristiwa ‘perpisahan ranjang’. Kedua ubur-ubur sawah pengacau perasaanku itu memang tidak peka. Nah, di titik inilah ledakan perasaanku dimulai.
###
Aku bergeming dalam duduk. Tampak tenang serupa permukaan dataran air. Sementara di dalamku ada yang melepuh diam-diam. Itulah hatiku. Sebentuk hati lembut, yang seharusnya terjaga justru diguyur air mendidih pada suatu ketika. Didih air itu menggenangiku, melepuhkan hingga serabut saraf tersembunyi di benakku.
Terjaga utuh dalam ingatanku yang satu itu.
“Tak kupunya lagi kesetiaan yang utuh kepadamu,” kata lelakiku pada suatu hari, “ada padaku seorang perempuan lain, yang kepadanyalah hendaknya aku berbagi hati dan keberadaanku.”
Mendidih darahku seketika. Meluap didihan itu mengguyur hatiku lengkap dengan uap panas yang melepuhkan.
“Tak hendak aku berbagi,” begitu kataku dengan nada lurus seturut keteguhan hatiku.
“Kalau begitu, aku akan mengakhiri hubungan ini denganmu,” gumam lelakiku serupa ancaman.
“Kuterima talakmu,” aku mengangguk tanpa rasa gentar.
Benar aku tak gentar. Serupa burung-burung yang tak pernah kawatir pada hari esok, demikian aku jalani pembubaranmu tanpa rasa gamang. Tapi luka itu tak bisa aku ingkari. Bukan karena rapuh hatiku melepuh, melainkan oleh kenyataan bahwa diriku telah ditinggalkan. Bahwa janji yang seharusnya teguh telah diingkari.
Kini, aku menerima amanah untuk membuat tembang yang akan menjadi ‘perayu’ perempuan lain. Tanda mata yang akan menandai gerak awal terbaginya sebuah kesetiaan…..
Lama aku merenung di beranda. Mengabaikan reranting dan dedaunan yang bergemerisik mengabarkan dahaganya. Tak aku pedulikan pula semburat matahari sore yang telah meredup dan membuat rumahmu remang tanpa cahaya.



Diilhami dari Cerpen karya Cerpen Sanie B. Kuncoro dengan judul Gumanding Peksi Kundur (Jawa Pos, 18 November 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar