GAMANG PENEMBANG
Diriku
dulu adalah pendamai manusia. Kawan dan keluarga. Aku cantik dan merangsang.
Keelokanku hampir selalu menyapu ranting pohon-pohon pada musim semi dengan
tanpa ragu. Jangankan pohon-pohon pada musim semi, pria-pria senja dan paruh baya
bahkan sudah tunduk melihat sinarku. Namun, itu dulu. Sekali lagi, itu dulu.
Dua
boneka teddy bear dengan bungkusan
bulu tebal yang pirang menemaniku di atas ranjang. Setiap malam. Sudah tak
berteman siapa-siapa lagi aku. Bahkan bunga-bunga matahari penebar penerangan
dalam hidup, sudah enyah sejak dulu kala. Bukan. Bukan dulu. Lebih tepatnya
enyah sejak dia meninggalkan aku. Lelakiku. Priaku. Pendamai jiwa saat diriku
tak lagi damai. Pekerja harianku saat ragaku tak lagi dapat bergerak menembus
kejamnya dunia seorang pekerja sastra. Pengatur finansialku saat dompet tak
lagi dapat bicara menuruti nafsu pemasukanku yang kalang kabut mengikuti
obralan gadjet jaman global. Dialah
yang menyulap duniaku menjadi serba surplus. Pahlawanku, dulu. Pahlawan kesianganku,
kini.
###
Hubungan
kami tidak membaik sudah sejak satu setengah tahun yang lalu. Kami telah pisah
ranjang sudah sekian lama. Bukan karena apa-apa, tapi aku sudah tidak lagi
merasakan belaian kasih sayangnya pada helai-helai rambutku yang tersentuh angin
dengan tidak sengaja. Aku haus akan sentuhan fisiknya di sekujur tubuh yang
mulai gersang terbakar sinar hingga keemasan. Bukan karena nafsu, tapi memang
begitu hubungan kami berjalan. Berjalan selama 3 tahun. Sejak aku menginjakkan
kaki di bangku sarjana, hingga kini mimpiku terbang menuju keluar gerbang kampus
tersohor bertempat di Kota kedua terbesar, Surabaya.
Saat aku
sedang sibuk-sibuknya menjalani masa pengenalan dunia kerja penembang sastra
sebagai atribut pelengkap rubric fiksi-fiksian, dia dengan mudahnya digirng
oleh seorang wanita untuk berplesir ke daerah wisata, Singaraja. Tak lain dan
tak bukan, wanita itu adalah temannya. Temannya yang sempat berkenalan
denganku. Temannya yang bersikap welcome
dan kindly kepadaku. Tapi sikapnya yang
suka menggandeng lelakiku untuk berplesir itu membuatku memiliki tatapan tidak
enak untuk sosoknya. Sosoknya yang tajir dan kemayu menambah kadar keirianku
terhadap dirinya. Lebih fatalnya lagi, lelakiku tidak menyadarinya. Dianggap
enteng saja peristiwa plesirnya itu. Bukan main, ini semakin menambah kacaunya
hubungan tiga tahun kami yang separuhnya adalah peristiwa ‘perpisahan ranjang’.
Kedua ubur-ubur sawah pengacau perasaanku itu memang tidak peka. Nah, di titik
inilah ledakan perasaanku dimulai.
###
Aku bergeming dalam
duduk. Tampak tenang serupa permukaan dataran air. Sementara di dalamku ada
yang melepuh diam-diam. Itulah hatiku. Sebentuk hati lembut, yang seharusnya
terjaga justru diguyur air mendidih pada suatu ketika. Didih air itu
menggenangiku, melepuhkan hingga serabut saraf tersembunyi di benakku.
Terjaga utuh dalam ingatanku yang satu itu.
“Tak kupunya lagi kesetiaan yang utuh kepadamu,”
kata lelakiku pada suatu hari, “ada padaku seorang perempuan lain, yang
kepadanyalah hendaknya aku berbagi hati dan keberadaanku.”
Mendidih darahku seketika. Meluap didihan itu
mengguyur hatiku lengkap dengan uap panas yang melepuhkan.
“Tak hendak aku berbagi,” begitu kataku dengan
nada lurus seturut keteguhan hatiku.
“Kalau begitu, aku akan mengakhiri hubungan ini
denganmu,” gumam lelakiku serupa ancaman.
“Kuterima talakmu,” aku mengangguk tanpa rasa
gentar.
Benar aku tak gentar. Serupa burung-burung yang
tak pernah kawatir pada hari esok, demikian aku jalani pembubaranmu tanpa rasa
gamang. Tapi luka itu tak bisa aku ingkari. Bukan karena rapuh hatiku melepuh,
melainkan oleh kenyataan bahwa diriku telah ditinggalkan. Bahwa janji yang
seharusnya teguh telah diingkari.
Kini, aku menerima amanah untuk membuat tembang
yang akan menjadi ‘perayu’ perempuan lain. Tanda mata yang akan menandai gerak
awal terbaginya sebuah kesetiaan…..
Lama aku merenung di beranda. Mengabaikan
reranting dan dedaunan yang bergemerisik mengabarkan dahaganya. Tak aku
pedulikan pula semburat matahari sore yang telah meredup dan membuat rumahmu remang
tanpa cahaya.
Diilhami
dari Cerpen karya Cerpen
Sanie B. Kuncoro dengan
judul Gumanding Peksi Kundur (Jawa Pos, 18 November 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar