Kamis, 27 Juni 2013


Seteguk Kopi
Karya : Mardi Luhung



Salam untukmu yang aku cintai. Izinkan aku mencium telapak tanganmu.
Atas dan bawah. Seperti mencium langit dan bumi.langit dan bumi yang
begitu berbau tembakau dan melati. Langit dan bumi yang pintar bersalin
rupa. Dan bersalin kelamin: pria atau wanita. Dan bayangan tubuhmu.
Bayangan yang melebar. Seperti kain yang ditenun oleh waktu. Kain yang
berkibar. Kain yang berseru dengan debar: “ jika boleh, biarkan aku
sumbat neraka, agar tak ada yang terperosok. Dan aku sumpal sorga, agar
tak ada yang silau!” Salam, salam untukmu yang aku cintai. Izinkan aku
memandang keningmu. Kening yang meninggi sampai entah. Kening
berkilat dan bergaris tangga. Tangga para penjahat yang gelisah. Para
pemanjat yang merasa: antara menghapus dan menambah sama saja.
sedang di luar itu, adalah pengigau. Pengigau yang merasa tak lebih dari
diri si peminum kopi. Yang ketika kopi tinggal seteguk, langsung
menangis. Dan merasa: “Betapa kenikmatan itu adalah yang menggeser.
Meski sesaat. Meski terkhianati!”

(Gresik 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar