UAPKAN
PROBLEMATIKA via 4 PILAR NEGARA
Indonesia
adalah salah satu Negara yang kaya akan sumder daya alamnya. Dengan kekayaan
yang super melimpah itu, hamper menjadikan Indonesia sebagai Negara yang
diperbudak Negara lain. Bahkan, Negara yang dijuluki sebagai Negara kepulauan
ini kerap kali mengalami percekcokan dengan Negara tetangga mengenai empu
kepulauan dan zona ekonomi kslusif. Namun, seringkali dengan berat hati,
Indonesia melepas kawasan pulau nya ke tangan Negara lain dengan alas an
perdamain.
Negara yang sering diklaim sebagai
zamrud katulistiwa ini juga mengemban banyak masalah dari berbagai aspek
kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan. Mari
kita ulas mengenai rincian berbagai masalah yang membelit Negara tercinta ini.
Politik. Politik merupakan salah satu bidang kehidupan yang vital bagi system
kenegaraan. Sialnya sumber permasalahan Indonesia justru bermula dari dunia
perpolitikan. Mulai dari system yang kurang tegas, pelaku yang kerapkali
nyeleweng, masyarakat yang apatis, fasilitas yang dirasa kurang memadai, dan
sebagainya. Untuk memudarkan
problematika itu jelas partisipasi warga Negara sangat dibutuhkan. Kongkretnya?
Jelas hukum dunia politik Indonesia harus dibenahi, mulai dari sangsi yang
diberikan kepada pelaku yang nyeleweng, sangat perlu dipertegas. Sedang
masyarakat yang apatis? Ya memang sulit untuk mengubah karakter yang sudah hampir
mengakar ini. Namun, yuk kita kembali lagi kepada watak yang diciptakan nenek
moyang melalui 4 pilar Indonesia. Dengan cara penanaman nilai kearifan
local yang tumbuh pada butir-butir pancasila itu sedikit banyak akan mengikis
keapatisan yang menjaring masyarakat kita beberapa tahun terakhir.
Ekonomi menjadi titik permasalahn
pokok yang kedua. Dewasa ini bahan pangan (termasuk bahan pangan dalam negeri)
mulai mengalami kenaikan harga. Mengapa? Jelas kondisi khas Negara sedang
mengalami goyah. Tengok saja, dengan gampangnya barang-barang illegal luar
negeri meramaikan sejumlah pasar-pasar di Indonesia, secara tidak langsung
perihal ini akan memengaruhi nilai surplus
terhadap keuangan negara. Uang Negara sedikit demi sedikit akan lari keluar
wilayah via penjualan terhadap
barang-barang import. Solusinya?
Meminimalisir barang-barang dan produk import masuk ke dalam negeri mungkin
dapat menjadi alternative yang pintar. Sebab, apabila produk dalam negeri
menjadi primadona di negeri sendiri, tentu jumlah keuntungan yang akan didapat
jelas hanya berputar selingkup regional. Singkatnya, laba dari penjualan produk
itu akan diolah dan diputar oleh SDM kita sendiri. Sejatinya memang
barang-barang Indonesia yang harus meramaikan pasar dalam negeri. Bukan barang
orang lain.
Selanjutnya menilik problematika
dari aspek yang ketiga, yakni Bidang Sosial. Ada masalah apa dalam bidang ini?
Perseteruan antar agama, tindak kriminal (meliputi; pembunuhan, perampokan,
pemerkosaan, dll) dan gap masyarakat. Penyimpangan hal-hal social diatas bahkan
sudah menjadi budaya akhir-akhir ini. Tidak ada rasa saling gotong-royong,
tolong menolong, toleransi, perdamain, dan masalah-masalah terkait lainnya. Ini
menunjukkan bahwa karakter yang sudah susah payah dibangun leluhur, mengalami
keruntuhan begitu saja. Nah, untuk
mengembalikan nilai ketimuran pada bangsa kita, alangkah lebih baiknya apabila
sekali lagi 4 pilar itu diakarkan pada berbagai lapisan masyarakat, bahkan
sangat perlu pembinaan karakter pancasila diberdayakan pada bangku-bangku
sekolah.
Sepertinya
tak akan habis kita merinci kericuhan-kericuhan yang terjadi di tanah air.
Bidang budaya pun turut terseret ke dalam kotak permasalahan. Contoh
kongkretnya seperti Reog Ponorogo yang diklaim sebagai budaya Negara Jiran.
Padahal, warisan nusantara dari kota Ponorogo, Jawa Timur itu merupakan tradisi
tontonan yang sudah membumi jauh sebelum pengakuan Malaysia menguap ke
permukaan. Mengapa Negara tetangga itu “tega” merebut milik Indonesia? Denga
halus, bukan mereka yang merebut, mereka hanya “memungut” peninggalan yang
telah kita buang, telah kita tinggalkan, warisan yang kita anggap kuno, norak
dan tidak modern. Bukankah demikian? Selain
terjadi dalam bidang sosial, ternyata keapatisan masyarakt kita juga terjadi
pada budaya. So, jangan salahkan Malaysia yang merebut. Salahkan kita yang
tidak menjaganya. Sekali lagi, warisan Indonesia perlu kita jaga. Perlu kita
teruskan tradisinya, perlu kita aplikasikan penggunaannya pada hari-hari besar.
Dengan sering dipertontonkan, warisan itu tidak akan terlihat kuno dan lusuh.
Justru terlihat kuat dan tak lekang oleh waktu, sebab mampu mengikuti
perkembangan zaman yang modern yang jadwal persaingannya semakin tahun semakin
ketat.
At
least but not least, yakni
Pendidikan. Problematika yang meracuni pendidikan memang kasat mata. Orang awam
tak akan mampu merabanya. Namun, apabila ditelaah, dunia pendidikan di
Indonesia mengalami kemerosotan terhadap nilai kearifan lokal milik bangsa.
Lemabga pendidikan dengan status RSBI nyatanya malah menimbulkan kontra dan gap dimana-mana. Terjadi kesenjangan
jarak yang memunculkan sikap acuh terhadap satu sama lain. Untungnya, pihak Negara cepat menyadari dan cekatan menyulut solusi. Perombakan
terhadap kurikulum yg mengandung pancasila dirasa cara yang cepat dan tepat.
Berharap jalan ini akan mengikis masalah yang menjaring dunia pendidikan kita.
Semoga.
Oleh : Putri Indah Yanti
Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
PB
2012 / 122074043
Tidak ada komentar:
Posting Komentar