Kamis, 27 Juni 2013


UAPKAN PROBLEMATIKA via 4 PILAR NEGARA

           
Indonesia adalah salah satu Negara yang kaya akan sumder daya alamnya. Dengan kekayaan yang super melimpah itu, hamper menjadikan Indonesia sebagai Negara yang diperbudak Negara lain. Bahkan, Negara yang dijuluki sebagai Negara kepulauan ini kerap kali mengalami percekcokan dengan Negara tetangga mengenai empu kepulauan dan zona ekonomi kslusif. Namun, seringkali dengan berat hati, Indonesia melepas kawasan pulau nya ke tangan Negara lain dengan alas an perdamain.
            Negara yang sering diklaim sebagai zamrud katulistiwa ini juga mengemban banyak masalah dari berbagai aspek kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan. Mari kita ulas mengenai rincian berbagai masalah yang membelit Negara tercinta ini. Politik. Politik merupakan salah satu bidang kehidupan yang vital bagi system kenegaraan. Sialnya sumber permasalahan Indonesia justru bermula dari dunia perpolitikan. Mulai dari system yang kurang tegas, pelaku yang kerapkali nyeleweng, masyarakat yang apatis, fasilitas yang dirasa kurang memadai, dan sebagainya. Untuk memudarkan problematika itu jelas partisipasi warga Negara sangat dibutuhkan. Kongkretnya? Jelas hukum dunia politik Indonesia harus dibenahi, mulai dari sangsi yang diberikan kepada pelaku yang nyeleweng, sangat perlu dipertegas. Sedang masyarakat yang apatis? Ya memang sulit untuk mengubah karakter yang sudah hampir mengakar ini. Namun, yuk kita kembali lagi kepada watak yang diciptakan nenek moyang melalui 4 pilar Indonesia. Dengan cara penanaman nilai kearifan local yang tumbuh pada butir-butir pancasila itu sedikit banyak akan mengikis keapatisan yang menjaring masyarakat kita beberapa tahun terakhir.
            Ekonomi menjadi titik permasalahn pokok yang kedua. Dewasa ini bahan pangan (termasuk bahan pangan dalam negeri) mulai mengalami kenaikan harga. Mengapa? Jelas kondisi khas Negara sedang mengalami goyah. Tengok saja, dengan gampangnya barang-barang illegal luar negeri meramaikan sejumlah pasar-pasar di Indonesia, secara tidak langsung perihal ini akan memengaruhi nilai surplus terhadap keuangan negara. Uang Negara sedikit demi sedikit akan lari keluar wilayah via penjualan terhadap barang-barang import. Solusinya? Meminimalisir barang-barang dan produk import masuk ke dalam negeri mungkin dapat menjadi alternative yang pintar. Sebab, apabila produk dalam negeri menjadi primadona di negeri sendiri, tentu jumlah keuntungan yang akan didapat jelas hanya berputar selingkup regional. Singkatnya, laba dari penjualan produk itu akan diolah dan diputar oleh SDM kita sendiri. Sejatinya memang barang-barang Indonesia yang harus meramaikan pasar dalam negeri. Bukan barang orang lain.
            Selanjutnya menilik problematika dari aspek yang ketiga, yakni Bidang Sosial. Ada masalah apa dalam bidang ini? Perseteruan antar agama, tindak kriminal (meliputi; pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dll) dan gap masyarakat. Penyimpangan hal-hal social diatas bahkan sudah menjadi budaya akhir-akhir ini. Tidak ada rasa saling gotong-royong, tolong menolong, toleransi, perdamain, dan masalah-masalah terkait lainnya. Ini menunjukkan bahwa karakter yang sudah susah payah dibangun leluhur, mengalami keruntuhan begitu saja. Nah, untuk mengembalikan nilai ketimuran pada bangsa kita, alangkah lebih baiknya apabila sekali lagi 4 pilar itu diakarkan pada berbagai lapisan masyarakat, bahkan sangat perlu pembinaan karakter pancasila diberdayakan pada bangku-bangku sekolah.
            Sepertinya tak akan habis kita merinci kericuhan-kericuhan yang terjadi di tanah air. Bidang budaya pun turut terseret ke dalam kotak permasalahan. Contoh kongkretnya seperti Reog Ponorogo yang diklaim sebagai budaya Negara Jiran. Padahal, warisan nusantara dari kota Ponorogo, Jawa Timur itu merupakan tradisi tontonan yang sudah membumi jauh sebelum pengakuan Malaysia menguap ke permukaan. Mengapa Negara tetangga itu “tega” merebut milik Indonesia? Denga halus, bukan mereka yang merebut, mereka hanya “memungut” peninggalan yang telah kita buang, telah kita tinggalkan, warisan yang kita anggap kuno, norak dan tidak modern. Bukankah demikian? Selain terjadi dalam bidang sosial, ternyata keapatisan masyarakt kita juga terjadi pada budaya. So, jangan salahkan Malaysia yang merebut. Salahkan kita yang tidak menjaganya. Sekali lagi, warisan Indonesia perlu kita jaga. Perlu kita teruskan tradisinya, perlu kita aplikasikan penggunaannya pada hari-hari besar. Dengan sering dipertontonkan, warisan itu tidak akan terlihat kuno dan lusuh. Justru terlihat kuat dan tak lekang oleh waktu, sebab mampu mengikuti perkembangan zaman yang modern yang jadwal persaingannya semakin tahun semakin ketat.
            At least but not least, yakni Pendidikan. Problematika yang meracuni pendidikan memang kasat mata. Orang awam tak akan mampu merabanya. Namun, apabila ditelaah, dunia pendidikan di Indonesia mengalami kemerosotan terhadap nilai kearifan lokal milik bangsa. Lemabga pendidikan dengan status RSBI nyatanya malah menimbulkan kontra dan gap dimana-mana. Terjadi kesenjangan jarak yang memunculkan sikap acuh terhadap satu sama lain. Untungnya, pihak Negara cepat menyadari dan cekatan menyulut solusi. Perombakan terhadap kurikulum yg mengandung pancasila dirasa cara yang cepat dan tepat. Berharap jalan ini akan mengikis masalah yang menjaring dunia pendidikan kita. Semoga.



Oleh : Putri Indah Yanti
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
PB 2012 / 122074043

Tidak ada komentar:

Posting Komentar