Kamis, 27 Juni 2013

~* SBY-Jokowi : Sang Jenderal vs SiTukang Kayu





Tanda tanda kemunculan pemimpin nasional seperti SBY sebelum dipilih menjadi Presiden Republik Indonesia mengingatkan kita akan beberapa peristiwa yang mendahului
kemunculannya. Kalau kita cocok-cocokkan, fenomena yang terjadi pada SBY (Sang Jenderal) ternyata
juga terjadi pada Jokowi (Si Tukang Kayu), berikut ini hasil fenomena yang mungkin bisa kita katakan mirip :

1- Kemunculan di media masa : SBY muncul pertama kali di AFI dengan membawakan lagu “Pelangi Dimatamu”
besutan Jamrud, Jokowi muncul
pertama di OVJ.

2- Blusukan : SBY sebelum jadi presiden sering mengunjungi pasar, lokasi syuting, rumah sakit sampai lokasi bencana. Jokowi keluar masuk
perkampungan kumuh di Solo dan
Jakarta.

3- Citra Terzolimi : SBY saat
“dipecat” jadi mentri oleh Megawati (yang sebenarnya mengundurkan diri).
Jokowi dituduh anak dari pasangan
Non Muslim oleh Oma Irama.
Ekspos Media : SBY dan Jokowi sama sama selalu ditempel media,
sampai hal-hal sekecil apapun jadi berita di media

4- Musibah di Awal Kekuasaan : Di tahun pertamanya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, SBY di
suguhi tsunami. Jokowi disuguhi
banjir besar di jakarta.

5- Pendukung Yang Kuat : SBY dan Jokowi sama sama punya pendukung,
SBY didukung kelompok Menengah-Atas, Jokowi didukung kelompok Menengah Bawah, sebagian besar pendukung Jokowi dari Wong Ciliknya PDIP
Dukungan Pengusaha : SBY
diketahui dengan dengan beberapa
pengusaha seperti Hartati Murdaya,
Jokowi juga dekat dengan beberapa
pengusaha, seperti pengusaha
Industri kosmetik Tradisional Martha Tilaar.

------------------------------------------------------------------
Meskipun terdapat kesamaan-
kesamaan seperti yang telah kita bahas diatas, ternyata di antara SBY dan Jokowi juga terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat
cukup mencolok, berikut ini dibahas perbedaan antara SBY dan Jokowi :

6- Tutur Kata dan Bahasa Tubuh :
Saat berbicara, membuka mulut dan gerakan tangan SBY seperti diatur dan dibuat sedemikain rupa, seperti wayang golek digerakkan dalang,
sehingga nampak membosankan.
Jokowi berbicara dengan gaya yang wajar, tidak dibuat-buat, tertawa lepas dan humor dilepas kapan saja dengan tanpa beban.

7- Pengawalan : SBY dan Jokowi
sama-sama dikawal, bedanya SBY dikawal kelewat ketat, sedang Jokowi dikawal secara simbolik,
buktinya ada ibu ibu yang berhasil
mencium Jokowi tanpa dicegah oleh satupun pengawalnya. Bisa kita bayangkan mungkinkah kejadian penciuman yang dialami oleh Jokowi bisa terjadi pada SBY ?

8- Hubungan Dengan Rakyat : SBY banyak didemo rakyat, Jokowi sebaliknya, banyak dinanti rakyat untuk mengunjungi daerah mereka.

9- Hubungan Dengan Wakil : SBY memperlakukan Wakil Presiden Boediono seperti hiasan (burung
dalam sangkar), sebaliknya Jokowi memperlakukan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) seperti macan yang mengawalnya dan Jokowi membebaskan
sang macan untuk mengaum dan
menerkam siapa saja yang tidak
benar.

10- Hubungan Dengan Media Masa :
SBY mengundang media masa untuk meliput kegiatanya, sebaliknya Jokowi dikejar-kejar awak media untuk meliputnya sehingga tak jarang
awak media kehilangan jejak Jokowi.

11- Hubungan Dengan Partai : Partai SBY (Demokrat) diperlakukan sebagai penyambung lidahnya,
sebaliknya Jokowi diperlakukan
partainya (PDIP) sebagai penyambung lidah partai. SBY sering menggunakan waktu kerjanya untuk
membicarakan partainya, sebaliknya Jokowi tidak mau membicarakan
partainya di waktu kerjanya tetapi sering berkampanye atau mendukung
kampanye di hari liburnya.

12- Pengambilan Keputusan : Konsep pengambilan keputusan SBY “Fikirkan
Dulu, Laksanakan Kemudian”,
sebaliknya Jokowi “Laksanakan Dulu, Fikirkan Masalah Yang Timbul Kemudian”. SBY yang berlatar belakang militer ternyata tidak dapat mengambil keputusan dengan
cepat, keputusan-keputusan yang menurunkan citranya baru dibuat setelah didemo dan dihujat kiri kanan. Sebaliknya Jokowi dapat
mengambil keputusan dengan sangat cepat (bisa dikatakan kelewat berani) yang kadang-kadang jadi bulan-bulannya lawan-lawan
politiknya, sebagai contoh masalah KJS yang baru-baru ini terjadi.

13- Bantuan Asing : SBY kerap
mempraktikkan konsep neoliberal
yang bersikap kooperatif dengan
pihak kreditor dan lebih ramah pada
investor asing, sebaliknya Jokowi cenderung menolak bantuan asing dan
berkeinginan mengakusisi perusahaan asing sebagai contoh masalah PT Paljaya.

14- Pertumbuhan Ekonomi : SBY
mengutamakan pertumbuhan ekonomi makro, keberhasilan kepemimpinan SBY diukur dari banyaknya investasi
asing yang masuk. Sebaliknya Jokowi mengutamakan pertumbuhan ekonomi
kerakyatan, keberhasilan
kepemimpinannya diukur dari
kesejahteraan rakyatnya.

15- Hari Libur : SBY nyaris tidak pernah menggunakan hari liburnya untuk mengurusi rakyatnya,
sebaliknya Jokowi sering
menggunakan hari liburnya untuk
mengurusi warganya.

16- Aliran Musik : SBY menyukai
musik sendu/melangkolis, sebaliknya Jokowi menyukai musik keras (rock).

Bagaimana akhir cerita kepemimpinan SBY dan Jokowi, hanya waktu yang akan menjawabnya.







Sumber : BPM >> Putri Indah Yanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar